Salah satu tujuan utama asesmen psikologi adalah menghasilkan pengukuran yang adil bagi setiap individu. Namun, dalam praktik asesmen berbasis digital, konsep keadilan menjadi semakin kompleks. Perbedaan akses terhadap teknologi, tingkat literasi digital, hingga konteks sosial-ekonomi dapat mempengaruhi bagaimana individu berinteraksi dengan alat ukur digital.
Bias dalam asesmen digital sering kali tidak muncul secara eksplisit. Individu yang terbiasa menggunakan perangkat digital mungkin lebih cepat memahami instruksi, lebih nyaman mengerjakan tes, dan lebih sedikit terdistraksi oleh aspek teknis. Sebaliknya, individu dengan keterbatasan akses atau pengalaman teknologi berpotensi dirugikan, meskipun konstruk psikologis yang diukur sebenarnya setara.
Dari perspektif psikometri, isu keadilan berkaitan erat dengan kesetaraan pengukuran (measurement invariance). Tes yang adil seharusnya mengukur konstruk yang sama dengan cara yang sama pada kelompok yang berbeda. Dalam asesmen digital, perubahan format dapat mengganggu kesetaraan ini jika tidak diuji secara empiris.
Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan media tes dapat mempengaruhi performa peserta, terutama pada kelompok usia tertentu atau individu dengan kebutuhan khusus. Jika perbedaan ini tidak diperhitungkan, hasil asesmen berisiko mencerminkan kemampuan beradaptasi dengan teknologi, bukan karakteristik psikologis yang menjadi target pengukuran.
Implikasi praktis dari bias asesmen digital sangat signifikan, terutama ketika hasil asesmen digunakan dalam konteks seleksi pendidikan, rekrutmen kerja, atau penentuan layanan psikologis. Keputusan berbasis data yang bias dapat memperkuat ketimpangan yang sudah ada dan mengurangi kepercayaan terhadap praktik asesmen psikologi.
Menjaga keadilan dalam asesmen digital menuntut komitmen profesional untuk melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap alat ukur dan prosedur yang digunakan. Digitalisasi seharusnya menjadi sarana untuk memperluas akses dan keadilan, bukan menciptakan bentuk bias baru yang tersembunyi di balik kemudahan teknologi.
Temukan layanan asesmen psikologi terbaik hanya di biro psikologi resmi Assessment Indonesia, mitra terpercaya untuk kebutuhan psikotes.
Referensi:
van de Vijver, F., & Leung, K. (1997). Methods and data analysis for cross-cultural research.
Jabrayilov, R., et al. (2016). Measurement invariance in computer-based testing. Assessment, 23(5), 567–582.
Hambleton, R. K. (2005). Issues, designs, and technical guidelines for adapting tests. Educational Measurement.
OECD. (2019). Education in the digital age.