Ada sebuah ironi dalam kehidupan modern: di tengah masyarakat yang memuja kesuksesan, sebagian orang justru takut mencapainya. Bukan karena kurang mampu atau tidak punya ambisi, melainkan karena ada ketakutan mendalam yang muncul saat peluang keberhasilan tampak di depan mata. Fenomena ini dikenal sebagai fear of success, sebuah kondisi psikologis yang membuat seseorang merasa cemas atau bahkan menghindari kesuksesan karena alasan yang tidak selalu disadari secara sadar.
Fenomena fear of success pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Matina Horner pada tahun 1970-an. Ia menemukan bahwa banyak individu, terutama perempuan pada masa itu, menunjukkan ketidaknyamanan atau bahkan penolakan terhadap keberhasilan, bukan karena tidak mampu, tapi karena khawatir akan konsekuensi sosial dari kesuksesan itu sendiri. Konsekuensi yang dimaksud bisa berupa kecemburuan dari orang lain, kesepian, meningkatnya ekspektasi, hingga perasaan bersalah karena meninggalkan orang lain yang belum berhasil.
Di era media sosial dan hustle culture hari ini, fear of success tidak hanya menjadi isu perempuan, tetapi juga meluas di kalangan anak muda dari berbagai gender. Banyak dari mereka yang tumbuh dalam lingkungan kompetitif dengan standar tinggi, namun juga menyerap nilai-nilai yang menjunjung keseimbangan, kerendahan hati, dan relasi yang sehat. Di sinilah konflik mulai terjadi: keinginan untuk sukses bersaing dengan rasa takut akan kehilangan diri sendiri, terasing dari lingkar sosial, atau dicap “berubah” setelah berhasil.
Contohnya bisa terlihat pada individu yang menolak promosi karena takut tidak mampu mengimbangi tanggung jawab barunya, atau merasa tidak nyaman saat menerima pujian atas prestasi mereka. Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan bisa secara tidak sadar “menghancurkan” peluangnya sendiri, seperti terlambat mengumpulkan proposal penting atau gagal mempersiapkan presentasi dengan baik, karena rasa takut yang tersembunyi akan dampak dari keberhasilan.
Ketakutan ini sering berakar dari pengalaman masa lalu yang membentuk pola pikir negatif terhadap keberhasilan. Misalnya, seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang memberi hukuman saat ia menonjol, bisa mengasosiasikan keberhasilan dengan rasa bersalah atau kecemasan. Begitu pula mereka yang pernah mengalami pengucilan karena menjadi “berbeda” atau terlalu berhasil di lingkungan sosialnya, bisa mengembangkan strategi bertahan hidup dengan cara meredam potensi diri.
Di sisi lain, budaya kolektif di Indonesia yang menekankan kesetaraan dan harmoni juga bisa memperkuat ketakutan ini. Saat keberhasilan dianggap dapat menciptakan jarak sosial atau bahkan dianggap pamer, individu yang sensitif terhadap penilaian sosial cenderung memilih untuk “tidak terlalu menonjol.” Hal ini diperparah oleh narasi di media sosial yang sering kali meromantisasi kesederhanaan atau mengkritik ambisi sebagai bentuk ketamakan.
Namun, penting untuk dibedakan bahwa fear of success bukanlah rasa rendah diri atau ketidakpercayaan diri semata. Orang dengan kondisi ini bisa jadi sangat kompeten dan memiliki banyak prestasi, tapi tetap merasa resah di hadapan potensi kesuksesan yang lebih besar. Di sinilah peran refleksi diri menjadi krusial. Dengan mengenali pola pikir yang membatasi dan memahami akar emosional di balik ketakutan tersebut, seseorang bisa mulai membangun ulang relasi yang sehat dengan keberhasilan.
Salah satu langkah awal adalah dengan mengevaluasi ulang makna sukses yang diyakini. Apakah kesuksesan berarti meninggalkan orang lain? Apakah harus dibayar dengan hilangnya waktu untuk diri sendiri? Ataukah sebenarnya, keberhasilan bisa menjadi jalan untuk menciptakan pengaruh positif yang lebih besar, termasuk bagi orang-orang terdekat?
Pendekatan psikologis seperti terapi kognitif-perilaku (CBT) dapat membantu individu yang bergumul dengan fear of success. Terapi ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pikir irasional dan menggantinya dengan sudut pandang yang lebih adaptif. Di samping itu, memiliki lingkungan yang suportif juga sangat penting agar keberhasilan tidak terasa sebagai beban, melainkan ruang pertumbuhan yang aman.
Akhirnya, memahami bahwa takut berhasil bukanlah kelemahan, tetapi sinyal dari luka psikologis yang belum sembuh, bisa menjadi titik balik dalam perjalanan pengembangan diri. Dengan mengakui dan mengolah rasa takut ini, seseorang tidak hanya akan lebih siap menyambut keberhasilan, tapi juga mampu menikmatinya tanpa merasa bersalah atau terancam. Assessment Indonesia sebagai vendor psikotes profesional menyediakan layanan asesmen psikologi terbaik untuk perusahaan dan individu.
Referensi:
Horner, M. S. (1972). Toward an Understanding of Achievement-Related Conflicts in Women. Journal of Social Issues, 28(2), 157–175.
Kay, L., & Shipman, C. (2014). The Confidence Code: The Science and Art of Self-Assurance—What Women Should Know. HarperBusiness.
Seligman, M. E. P. (2011). Learned Optimism: How to Change Your Mind and Your Life. Vintage.
Psychology Today. (n.d.). Fear of Success.
Verywell Mind. (2023). What Is Fear of Success?