Loading...

Self-Gaslighting: Saat Kita Meragukan Luka Sendiri

08 Oktober 2025
Author : admin
Bagikan

Ada momen ketika seseorang mengalami emosi yang begitu kuat seperti rasa marah, sedih, kecewa, atau takut, namun seketika muncul suara dalam kepala yang berkata, “Ah, mungkin aku terlalu sensitif,” atau “Ini bukan masalah besar, aku pasti lebay.” Di sinilah benih self-gaslighting mulai tumbuh. Istilah ini memang belum lama dikenal publik luas, namun gejalanya telah lama menghantui banyak individu secara diam-diam. Self-gaslighting merujuk pada kondisi ketika seseorang meragukan atau menolak realitas emosional dan pengalamannya sendiri, seolah-olah perasaannya tidak valid atau tidak penting.

Fenomena ini erat kaitannya dengan dinamika relasi interpersonal dan tekanan sosial yang membentuk keyakinan bawah sadar seseorang terhadap dirinya sendiri. Biasanya, mereka yang mengalami self-gaslighting memiliki riwayat pernah berada dalam hubungan yang manipulative, baik secara emosional maupun verbal, di mana perasaan mereka secara konsisten dikesampingkan atau dianggap salah. Dalam jangka panjang, orang mulai menyerap cara pandang ini, hingga pada akhirnya mereka sendiri yang menyangkal validitas perasaannya, tanpa perlu ada orang lain yang memaksanya.

Self-gaslighting juga sering muncul pada individu yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberi ruang aman untuk ekspresi emosi. Contohnya, ketika seorang anak menangis karena terluka lalu dikatakan, “Jangan cengeng,” maka pengalaman emosionalnya tidak hanya diabaikan, tetapi juga dihakimi. Pesan seperti ini jika terus-menerus diterima, membuat seseorang dewasa kelak memiliki pola pikir bahwa emosi adalah beban, bukan sesuatu yang perlu dirasakan dan diproses.

Yang lebih kompleks, budaya kerja dan masyarakat kita juga sering mendorong self-gaslighting secara tidak langsung. Narasi seperti “positive vibes only”, “jangan terlalu mikirin perasaan”, atau glorifikasi produktivitas tanpa henti memberi tekanan untuk tetap tampak kuat dan positif, bahkan ketika seseorang sedang lelah atau terluka secara mental. Ini membuat banyak orang merasa bersalah saat mengalami emosi negatif, sehingga memilih untuk menekan atau menyangkalnya.

Dampak dari self-gaslighting tidaklah ringan. Ia merusak hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Ketika perasaan tidak dipercaya oleh diri sendiri, maka kepercayaan diri pun ikut terkikis. Seseorang menjadi mudah bimbang dalam mengambil keputusan, kerap merasa "bermasalah", atau justru terjebak dalam overthinking yang terus-menerus. Hal ini juga dapat memengaruhi hubungan sosial, karena individu yang terbiasa menyangkal perasaannya cenderung menarik diri, atau sebaliknya, memaksakan kebahagiaan semu di hadapan orang lain.

Menghadapi dan mengatasi self-gaslighting memerlukan keberanian untuk mengakui bahwa setiap emosi yang hadir adalah valid. Validasi tidak berarti bahwa semua emosi harus diikuti tanpa kendali, melainkan mengakui bahwa perasaan itu ada dan punya pesan yang ingin disampaikan. Langkah awal bisa dimulai dengan melatih self-awareness melalui mencatat perasaan harian, mengamati pola pikir otomatis, dan memberi ruang untuk bertanya: “Apakah aku sedang menolak perasaanku sendiri?”

Membangun self-compassion juga menjadi kunci penting. Kita bisa mulai dengan mengubah narasi internal menjadi lebih suportif. Misalnya, mengganti “Aku lebay” menjadi “Aku sedang merasa cemas, dan itu wajar,” atau “Aku merasa kecewa, mungkin karena ini penting bagiku.” Pendekatan penuh belas kasih terhadap diri sendiri dapat membantu mengurai luka-luka yang selama ini tersembunyi di balik penyangkalan.

Bila pola ini sudah terlalu kuat dan sulit diurai sendiri, bantuan profesional seperti psikolog atau konselor sangat dianjurkan. Dalam ruang terapi, seseorang diberi tempat aman untuk memvalidasi luka-lukanya dan mengurai kembali kepercayaan terhadap diri sendiri yang sempat hilang.

Self-gaslighting bukan tentang kelemahan, tapi tentang cara bertahan dalam sistem yang mengabaikan emosi. Maka, proses keluar dari jerat ini pun bukan perkara sederhana. Namun dengan kesadaran dan dukungan yang tepat, seseorang dapat membangun kembali hubungan yang sehat dengan emosinya, bukan untuk menjadi ‘kuat’ secara semu, tapi untuk menjadi utuh secara emosional. Temukan layanan asesmen psikologi terbaik hanya di biro psikologi resmi Assessment Indonesia, mitra terpercaya untuk kebutuhan psikotes. 

Referensi:

Stern, R. (2018). The Gaslight Effect: How to Spot and Survive the Hidden Manipulation Others Use to Control Your Life. Harmony Books.

Cunningham, K. C., & Stagner, B. R. (2022). Internalized gaslighting and the development of negative self-concept: A trauma-informed perspective. Journal of Psychological Research, 67(3), 102–118.

American Psychological Association. (2022). Self-Gaslighting. https://www.apa.org/news/press/releases/stress/2022/self-gaslighting

Healthline. (2023). What is Self-Gaslighting? https://www.healthline.com/health/mental-health/self-gaslighting

Bagikan
Masalah Psikologi

Temukan Solusi Psikologis Anda Hari Ini

Lihat layanan psikologi kami atau Anda dapat menghubungi kami