Loading...

Menjadi Ayah di Era Setara: Peran Emosional dan Pembagian Peran Baru dalam Keluarga Modern

01 Oktober 2025
Author : admin
Bagikan

Dulu, seorang ayah digambarkan sebagai sosok tegas, pendiam, dan sibuk bekerja. Kehadirannya di rumah sering kali bersifat simbolis: pulang malam, lelah, namun tetap menjadi kepala keluarga yang tak terbantahkan. Urusan anak, rumah tangga, dan pendidikan moral dianggap tanggung jawab ibu, sementara ayah cukup memastikan kebutuhan materi terpenuhi. Namun, di abad ke-21, gambaran ini mulai berubah. Perubahan pola relasi, meningkatnya kesadaran kesetaraan gender, serta pergeseran nilai keluarga membawa ayah ke panggung baru, bukan lagi hanya sebagai pencari nafkah, tapi sebagai figur emosional yang hadir, responsif, dan terlibat penuh dalam pengasuhan anak.

 

Kesetaraan gender yang terus diperjuangkan sejak paruh akhir abad ke-20 bukan hanya membuka akses pendidikan dan pekerjaan bagi perempuan, tapi juga secara perlahan membongkar stereotip laki-laki sebagai makhluk dominan, kuat, dan tidak emosional. Ketika perempuan diperbolehkan keluar dari ranah domestik, maka laki-laki pun mulai masuk ke ranah yang dulu dianggap bukan bagi mereka: dapur, ruang bermain anak, hingga kelas prenatal bersama pasangan. Data dari UNICEF (2020) menunjukkan bahwa ayah yang aktif dalam pengasuhan tidak hanya meningkatkan kualitas hubungan keluarga, tetapi juga memperkuat kesehatan mental anak dan mempercepat perkembangan sosial-emosional mereka.

 

Di kota-kota besar, semakin banyak ayah yang mendorong stroller di taman, ikut menghadiri rapat orang tua di sekolah, atau bahkan mengambil cuti ayah (paternity leave), sebuah kebijakan yang kini mulai diberlakukan di berbagai perusahaan progresif di Indonesia. Perubahan ini bukan sekadar simbolik. Ia mencerminkan transformasi peran: ayah kini bukan hanya pencari nafkah, tapi juga partner emosional bagi anak dan pasangan. Dalam dunia yang makin kompleks dan penuh tekanan, kehadiran emosional ayah menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan keluarga.

 

Namun tentu, menjadi ayah emosional bukan hal yang mudah, apalagi dalam budaya patriarki yang masih kuat. Banyak pria tumbuh tanpa contoh ayah yang ekspresif secara emosional. Mereka diajarkan bahwa menangis itu lemah, memeluk anak itu canggung, dan mengungkapkan perasaan adalah hal yang “tidak laki-laki”. Akibatnya, banyak ayah muda yang ingin terlibat secara emosional merasa ragu, bingung, bahkan takut dianggap tidak maskulin. Inilah titik krusial di mana kesetaraan gender bukan hanya soal perempuan yang boleh bekerja, tetapi juga tentang laki-laki yang boleh merawat dan merasa.

 

Psikolog Michael Lamb (2010), dalam penelitiannya tentang peran ayah, menekankan bahwa kehadiran emosional ayah memiliki dampak jangka panjang pada perkembangan anak. Anak-anak yang memiliki ayah yang suportif dan terbuka secara emosional cenderung memiliki harga diri lebih tinggi, keterampilan sosial lebih baik, dan resiliensi yang lebih kuat dalam menghadapi stres. Dalam konteks ini, kesetaraan gender justru memperkaya pengalaman pengasuhan. Ketika tugas rumah tangga dan emosional dibagi, anak tidak hanya belajar bahwa cinta dan tanggung jawab bukan soal jenis kelamin, tetapi juga soal kemanusiaan.

 

Perubahan peran ayah juga mengubah pola hubungan dalam rumah tangga. Pasangan yang berbagi peran secara seimbang cenderung memiliki hubungan yang lebih harmonis, saling menghargai, dan minim konflik. Sebuah studi oleh Harvard Business Review (2019) menyebut bahwa pasangan yang membagi tanggung jawab rumah dan anak secara adil melaporkan tingkat kepuasan pernikahan yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa kesetaraan bukan hanya ideal moral, tetapi juga strategi keberlanjutan rumah tangga.

 

Tentu masih ada tantangan. Tekanan sosial yang memuja sosok ayah pekerja keras, stigma terhadap ayah yang “terlalu dekat” dengan anak, serta minimnya fasilitas pendukung (seperti ruang laktasi atau cuti ayah) membuat banyak pria kesulitan menjalankan peran emosionalnya. Belum lagi ekspektasi masyarakat yang sering kali ambivalen: memuji ayah yang mengganti popok seolah itu prestasi, tapi menganggap itu “biasa” bagi ibu. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender belum benar-benar menyentuh struktur nilai yang lebih dalam.

 

Untuk itu, diperlukan perubahan sistemik dan kultural. Pendidikan gender sejak dini, pelatihan pengasuhan untuk ayah, kebijakan ramah keluarga di tempat kerja, serta representasi media yang menampilkan ayah sebagai sosok penyayang dan aktif di rumah adalah langkah penting untuk membangun generasi ayah baru. Bukan ayah yang dominan, tapi ayah yang hadir. Bukan ayah yang ditakuti, tapi ayah yang dipercaya.

 

Dalam keluarga modern, peran ayah tidak lagi sekadar pelindung yang kuat dari luar, tetapi juga pelukan yang hangat di dalam rumah. Ketika laki-laki diberi ruang untuk merasakan, merawat, dan terlibat, maka keluarga pun tumbuh dalam cinta yang lebih utuh, bukan karena aturan gender, melainkan karena kemauan untuk bersama. Di titik ini, kesetaraan gender bukan lagi wacana besar, melainkan hadir nyata di ruang makan, ruang tidur, dan ruang hati anak-anak kita.

Assessment Indonesia sebagai vendor psikotes profesional menyediakan layanan asesmen psikologi terbaik untuk perusahaan dan individu. 

 

Referensi:

Lamb, M. E. (2010). The Role of the Father in Child Development (5th ed.). John Wiley & Sons.

UNICEF Indonesia. (2020). Laporan Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak.

Harvard Business Review. (2019). The Benefits of Equal Parenting in the Modern Marriage. https://hbr.org

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. (2021). Peran Ayah dalam Keluarga dan Perlindungan Anak.

Bagikan
Psikologi Keluarga

Temukan Solusi Psikologis Anda Hari Ini

Lihat layanan psikologi kami atau Anda dapat menghubungi kami