Perkembangan media sosial mendorong orang tua untuk membagikan berbagai momen kehidupan anak secara daring. Praktik ini dikenal sebagai sharenting, yaitu kebiasaan orang tua membagikan foto, video, atau cerita tentang anak melalui platform digital. Meskipun sering dilakukan dengan niat positif, sharenting memiliki implikasi psikologis yang perlu diperhatikan.
Dalam psikologi perkembangan, masa kanak kanak merupakan periode penting dalam pembentukan identitas dan rasa aman. Ketika kehidupan pribadi anak dipublikasikan tanpa persetujuannya, anak berpotensi kehilangan kontrol atas citra dirinya. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan identitas dan rasa tidak nyaman di kemudian hari.
Penelitian menunjukkan bahwa eksposur digital sejak dini dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Anak dapat merasa bahwa nilai dirinya ditentukan oleh penilaian orang lain di media sosial. Kondisi ini menjadi tantangan psikologis yang perlu disadari oleh orang tua dalam keluarga modern.
Oleh karena itu, sharenting perlu dilakukan secara bijaksana dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi perkembangan psikologis anak. Kesadaran orang tua menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara berbagi kebahagiaan dan melindungi hak anak.
Assessment Indonesia adalah biro psikologi resmi yang menjadi pusat asesmen psikologi terpercaya, serta vendor psikotes terbaik di Indonesia.
Referensi:
Blum Ross, A., & Livingstone, S. (2017). Sharenting and parenthood. New Media and Society.
Steinberg, S. B. (2017). Sharenting. Emory Law Journal.
Coyne, S. M., et al. (2020). Media use and child development. Journal of Child and Family Studies.